Jumat, 13 April 2012

Contoh Studi Kasus Bimbingan Konseling


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Dalam perkembangan dan kehidupan setiap manusia sangat mungkin timbul berbagai permasalahan. Baik yang dialami secara individual, kelompok, dalam keluarga, lembaga tertentu atau bahkan bagian masyarakat secara lebih luas. Untuk itu ditentukan adanya bimbingan sebagai suatu usaha pemberian bantuan yang diberikan baik kepada individu maupun kelompok dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan alam memberikan bimbingan adalah memahami individu (dalam hal ini peserta didik) secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun latar belakangnya. Sehingga peserta didik diharapakan dapat memperoleh bimbingan yang tepat dan terarah.
Untuk dapat memahami peserta didik secara lebih mendalam, maka seorang pembimbing maupun konselor perlu mengumpulkan berbagai keterangan atau data tentang peserta didik yang meliputi berbagai aspek, seperti: aspek sosial kultural, perkembangan individu, perbedaan individu, adaptasi, masalah belajar dan sebagainya. Dalam rangka mencari informasi tentang sebab-sebab timbulnya masalah serta untuk menentukan langkah-langkah penanganan masalah tersebut maka diperlukan adanya suatu tehnik atau metode pengumpulan data atau fakta-fakta yang terkait dengan permasalahan yang ada. Untuk mengetahui kondisi dan keadaan siswa banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus (Case Study)
B.  Pengertian Studi Kasus
Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.
Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.
C.  Tujuan Studi Kasus
Tujuan studi kasus di sekolah adalah untuk mencapai dan men dapatkan pema haman menyuluhan mengenai siswa yang bermasalah sehingga dapat dibuat pro gram bantuan. tujuan studi kasus dapat dibedakan menjadi 2 yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1.        Tujuan Umum
Secara umum tujuan studi kasus bertujuan untuk :
a.     Umum memproleh gambaran yang jelas tentang keadaan pribadi siswa Yang di anggap mempunyai masalah belajar.
b.    Untuk mengetahui penyebab - penyebab dan menerapkan jenis dan sifat Kasukitan belajar serta latar belakang timbulnya masalah yang dihadapi Siswa Kasus.
c.     Untuk memberi bekal pengala man kepada calon guru agar lebih peka Terhadap permasa lahan yang dihadapi siswa dan mampu memecahkan nya.
2.        Tujuan Khusus
Secara khusus pelaksanan studi kasus bertujuan untuk:
a.     Memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi siswa yang mempunyai masalah.
b.    Membantu siswa menyesuaia kan diri dengan lingkungan.
c.     Membantu siswa memecahkan masalah dan mengembangkan potensi belajar siswa secara optimal.
D.  Manfaat Studi Kasus
Manfaaat studi kasus dalam layanan bimbingan siswa disekolah adalahmerupakan suatu upaya dalam membantu siswa yang berma salah supaya dapat memahami ke mampuan dirinya dan lingkungan dalam usaha untuk meningkat kan prestasi belajar siswa kasus.
Selain itu juga dapat berguna untuk siswa agar mengetahui ke adaan diri sendiri dan bisa ber adap tasi dengan lingkungan sekitarnya.
E.   Metode Pengumpulan Data
Dalam rangka memperoleh data yang akurat tentang diri siswa,penulis dalam penyusunan studi kasus dan layanan bimbingan siswa ini menerapkan beberapa metode pengumpulan data sebagai berikut
1.        Obsrvasi
Observasi yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data yang diinginkan dengan melakukan pengamatan secara langsung
2.        Interview (Wawancara)
Wawancara ialah suatu metode untuk mendapatkan data dengan mengadakan face to face relation.
F.   Langkah-langkah Bimbingan
1.         Langkah identifikasi anak
Langkah ini dimaksudkan untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang tampak. Dalam langkah ini,pembimbing mencatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih anak yang perlu mendapat bimbingan terlebih dahulu.
2.         Langkah  diagnosis
Diagnosis merupakan tahap menginterpretasikan data dari suatu masalah yang dihadapi.Rumusan diagnosis dilakukan melalui proses pengambilan atau penarikan kesimpulan yang logis
3.         Langkah  prognosis
Prognosis adalah langkah yang ditempuh untuk menetapkan jenis atau tehnik bantuan yang diberikan kepada anak didik serta memprediksi kemungkinan yang akan timbul oleh anak sehubungan dengan masalah yang sedang dialami
4.         Langkah  terapi
Langkah terapi yaitu langkah pelaksanaan bimbingan. Langkah ini merupakan pelaksanaan yang ditetapkan dalam langkah prognosis. Pelaksanaan ini memakan banyak waktu, proses yang kontini dan sistematis, serta memerlukan pengamatan yang cermat
5.         Langkah evaluasi dan follow-up
Langkah ini dimaksudkan untuk menilai atau mengetahui sejauh manakah terapi yang telah dilakukan dan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah follow-up atau tindak lanjut, dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka waktu yang lebih jauh.


BAB II
LAYANAN BIMBINGAN

A.   Identifikasi Siswa Kasus
Tujuannya adalah untuk menentukan siswa yang diperkirakan prestasi belajarnya menurun, sehingga memerlukan bimbingan dan pengawasan dari guru maupun orang tua murid. Dalam melaksanakan kegiatan ini, maka konselor  mencari informasi yang berkaitan dengan siswa yang bermasalah tersebut agar dapat ditentukan letak permasalahan yang dialami oleh siswa tersebut:
Adapun metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi tersebut ialah:
1.        Mempelajari prestasi yang dicapai siswa kasus yang terdapat pada raport.
2.        Mempelajari data yang berhubungan dengan pribadi siswa dengan metode wawancara.
3.        Melakukan observasi dengan cara melakukan pengamatan secara langsung.
Dari pengamatan yang dilakukan oleh konselor dengan menggunakan metode yang di sebutkan diatas. dapat ditentukan bahwa siswa yang mendapatkan prioritas layanan bimbingan konseling terlebih dahulu adalah Angga Prasetio
B.  Langkah Diagnosis
Dari pengamatan yang dilakukan oleh konselor, dengan menggunakan metode observasi,dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa klien yang bernama Angga Prasetio mengalami permasalahan berikut:
1.        Prestasi belajar menurun.
2.        Nilai tugas, ulangan, dan ujian rendah
3.        Peringkat dibawah rata-rata, dan sebagainya
4.        Tidak disukai oleh anak perempuan
Sedangkan penyebab terjadinya masalah
1.        Dari dalam klien sendiri (internal):
a.       Masalah agama dan moral, kurang tekun dalam menjalankan kewajiban ibadah.
b.      Masalah pergaulan suka menggoda temannya terutama perempuan.
c.       Masalah penggunaan waktu lebih banyak bermain dan nonton televisi.
d.      Masalah belajar yang dilakukan tidak serius.
2.        Dari luar klien (eksternal):
Keluarga:
a.       Klien termasuk anak yang dimanja, dan nakal .
b.      Kurang perhatian dari orang tua karena sering pergi keluar kota.
c.       Klien merupakan anak tunggal.
Linkungan sekolah:
a.       Ada beberapa pelajaran yanng tidak disukai.
b.      Sebagian besar teman cewek suka membicarakannya.
c.       Masalah penyesuaian dengan sekolah lambat dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.
Kemungkinan Akibat
1.        Minat belajar semakin berkurang
2.        Tidak naik kelas
3.        Dikeluarkan dari sekolah, dan sebagainya
C.   Langkah prognosis
Berdasarkan identifikasi dan etiologi masalah tersebut kemungkinan yang terjadi pada diri klien adalah:
1.        Apabila masalah-masalah yang muncul tidak dengan segera diatasi kemungkinan besar yang akan terjadi antara lain:
a.     Berkaitan dengan pribadi:
·      Klien akan tetap hiperaktif dan ramai dalam waktu proses belajar dikelas.
·      Kebiasaan klien yang suka mengganggu temannya saat pelajaran terutama pada temannya.
b.    Berkaitan dengan belajar:
·      Klien akan tetap terlambat dalam menyelesaikan tugas dari gurunya.
·      Prestasi belajar klien sulit berkembang,padahal sebenarnya klien mempunyai bakat dan memiliki ke inginan untuk sukses.
c.        Berkaitan dengan interaksi sosial:
·      Klien akan tidak disukai oleh temannya terutama anak putri.
·      Klien akan tetap tidak bisa menerima segala keputusan yang ada dalam keluarga,karena terbiasa bahwa masalah harus diselesaikaan sesuai dengan keinginannya.
2.      Apabila masalah –masalahnya teratasi, kemungkinan klien bisa manghadapi Segala permasalahannya dengan proporsional dan tidak mengganggu Konsentrasinya sebagai pelajar yang memiliki kewajiban belajar demi Suksesnya masa depan yang menjadi miliknya.
D. Langkah terapi
Usaha pemberian bantuan adalah upaya yang dilakukan untuk membantu klien dalam memcahkan masalah menuju perkembangan yang optimal. Pemberian bantuan ini harus disesuaikan dengan faktor penyebab timbulnya masalah yang dihadapi oleh klien. Jenis bantuan yang direncanakan untuk klien adalah sebagai berikut:
1.           konseling
2.           kerjasama dengan wali kelas.
3.           konsultasi dengan guru BK.
4.           kerjasama dengan orang tua wali murid.
Mengingat waktu, situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, maka altenatif yang dilakukan dalam usaha pembelajaran bantuan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Usaha pemberian bantuan yang dilaksanakan sebagai berikut:
1.         Konseling (bimbingan )
Dalam teknik ini pemberian bantuan dilaksanakan dalam bentuk hubungan yang bersifat face to face yaitu antara klien dengan praktikan. Layanan ini yang bertujuan untuk membantu klien dalam memecahkan masalah, dengan bantuan yang diberikan praktikan terhadap siswa. Maka praktikan dapat mengharapkan terjadi perubahan yang terjadi pada diri siswa agar tidak menggulangi kembali masalah yang sudah terjadi. Maka dengan itu praktikan memberikan nasehat agar siswa kasus tersebut tidak berkelahi kembali pada saat pelajaran berlangsung.Dalam konseling praktikan memberikan masukan bahwa setiap manusia pasti Mempunyai masalah mamun berat dan ringannya permasalahan tesebut tergantung pada diri kita sendiri. untuk menyikapinya, maka jalan yang disarankan adalah mendekatkan diri kepada tuhan agar diberikan pikiran yang jernih dan lapang, agar masalah yang dihadapinya menemukan jalan keluardan mengganggap bahwa semua itu pasti ada hikmahnya. Selain itu sifat keterbukaan dan pikiran yang dewasa akan menyelesaikan segala persoalan.
2.         Kejasama dengan guru kelas
Kejasama ini dilakukan untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh klien, karena wali kelas adalah orang yang paling mengerti tentang latar belakang siswa yang bersangkutan . dengan pendekatan dan interaksi secarabkontinyu wali kelas dapat menyimpan segala rahasia tentang siswa yang mengalami masalah bahkan wali kelas dapat memberikan bantuan secara intentif dan dapatmemperhatikan dengan pendekatan personal. Hal ini dilakukan dengan mengambil jam diluar jam pelajaran sehingga tidak menimbulkan kecemburuan terhadap siswa. Dengan demikian wali kelas sangatlah berperan sekali untuk membantu siswa dalam memberikan motifasi belajar membantu untuk masalah biaya sekolah. Misalnya dengan mengajukan beasiswa tidak mampu pada sekolah. Dengan adanya perhatian tersebut akhirnya klien secara, bertahap dapat memperbaiki nilai yang mungkin berpengaruh tehadap masa depan nya.
3.         kerjasama dengan guru BK.
Kerjasama dengan guru Bk ini berkenan dengan prilaku secara umum yang dialami oleh klien, dengan data yang didapat praktikan melakukan dengan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang dialami oleh siswa bersangkutan, hal ini menjadi penting karena dengan hanya memakai data yang ada praktikan tidak cukup tepat dalam memberikan layanan bimbingan.
4.         Kerjasama dengan orong tua ( wali ).
Kunjungan kerumah ( home visit ) dilakukan untuk mengetahui latar belakang ( background ) keluarga dan kondisi klien dilingkungan rumah. Komunikasi di lakukan dengan orang tua klien ( ibu ) agar klien diberikan perhatian khusus dalam kaitannya dengan proses belajar dirumah. Jika dianggap perlu sebaiknya didatangkan guru privat untuk memberikan bimbingan belajar bagi klien, Untuk mengkordinasikan klien menjalani proses belajar di rumah, maka secara bergantian seminggu 3x selama dua minggu kami memberikan bimbingan belajar dengan cara jemput bila ke rumah klien. Rupanya usaha ini membuahkan hasil, dimana orang tua semakin terbuka dan menyadari akan kebutuhan anak untuk di berikan perhatian khusus dalam belajar. Selama ini orang tua hanya memerintahkan anak untuk belajar, tetapi tidak pernah di bimbing dalam belajar. Setelah proses bimbingan berjalan selama 4x pertemuan ternyata klien menujukan perubahan yang cukup positif yaitu merasa nyaman untuk menjalani proses belajar secara mandiri, pada tahap ini mulai muncul motivasi dan kesadaran belajar secara serius yang menggambarkan ke inginan orisinil yang di miliki selama ini.
E.   Langkah evaluasi dan follow-up
Follow up adalah usaha yang di lakukan konselor untuk mengikuti perkembangan klien setelah klien mengambil suatu keputusan sendiri untuk bertindak. Selain itu dalam upaya tindak lanjut konselor juga mengevaluasi keberhasilan atau tidaknya upaya bantuan yang di berikan kepada klien tentang masalah pribadi, belajar dan juga sosial yang di hadapi. Karena klien sering memikirkan permasalahan tersebut maka akan mempengaruhi konsentrasinya dalam belajar, maka uasah ayang di berikan pada klien antara lain:
1.    Untuk mengatasi masalah pribadi:
a.         Memberikan motifasi dan support kepada klien agar klien lebih termotivasi sehingga percaya dirinya bisa tumbuh.
b.        Memberikan pengertian bahwa semua permasalahan itu pasti ada hikmahnya dan agar berusaha bersabar dalam enjalani hidupnya dan jangan lupa selalu berdo’a kepada tuhan yang maha kuasa.
2.    Untuk mengatasi masalah belajarnya:
a.         Membantu membuat jadwal secara terinci yang bersifat rutinitas yang nantinya akan membantu klien untuk labih bisa memanfaatkan waktu belajar sebaik mungkin.
b.         Memberikan pengertian bahwa belajar jangan takut salah, karena salah dalam belajar itu adalah sesuatu yang biasa.
c.         Lebih sering menunjukan klien untuk aktif dan fokus dalam mengikuti pelajaran di kelas, seperti menunjukan klien ke depan kelas untuk mengerjakan soal atau menjawab soal.
3.    Untuk mengatasi masalah sosialnya:·
a.         Melatih klien untuk bisa mengurangi sifatnya yang hiper aktif yang suka mengganggu temanya. Sering mengajak ngobrol tentang apa yang ia kehendaki atau yang ia  cita – citakan.
b.         Memotivasi klien untuk bergaul sewajarnya, terutama dengan anak putri.
c.         Memberikan pengertian bahwa semua permasalahan itu paasti ada hikmahnya dan agar beruasha, bersabar dalam menjalani hidupnya dan jangan lupa selalu berdo’a kepada tuhan yanga maha kuasa.


BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Dari pengamatan yang dilakukan oleh konselor, dengan menggunakan metode observasi,dan wawancara maka dapat disimpulkan bahwa klien yang bernama Angga Prasetio mengalami permasalahan berikut:
1.         Prestasi belajar menurun.
2.         Nilai tugas, ulangan, dan ujian rendah
3.         Peringkat dibawah rata-rata, dan sebagainya
4.         Tidak disukai oleh anak perempuan
B.     Saran
Usaha pemberian bantuan kepada klien dalam memcahkan masalah menuju perkembangan yang optimal. Perlu kerjasama semua pihak diantaranya, Orang tua, walikelas, guru BK, dan Klien itu Sendiri. Oleh karena itu konselor perlu memberi masukan ke semua pihak antara lain:
  1. .kepada klien;
a.       Untuk lebih berusaha dan semangat dalam belajar agar tidak ketinggalan dengan teman-temannya.
b.      Untuk lebih terbuka dengan teman,orang tua,wali kelas dan BK untuk mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi.
c.       Hendaknya menjalin hubungan pertemanan yang baik denga teman-teman sekelas, menjalin hubungan baik dengan guru mata pelajaran untuk memperlancar komunikasi dan jangan pernah takut atau malu untuk bertanya tentang apapun kepada guru tentang apa saja yang belum mengerti.
  1. Kepada wali kelas ;
a.         Membantu siswa yang mengalami masalah,
b.         Memperlihatkan tingkah laku anak didiknya karena begitu wali kelas bisa mengetahui perubahan tingkah laku anak didiknya.
c.         Menyediakan waktu untuk berdialog dengan siswanya.
d.        Memberikan motifasi belajar kepada siswanya.
  1. Kepada Bimbingan Konseling (BK);
a.         Untuk meningkatkan komunikasi kepada siswa.
b.         Memberikan motifasi kepada siswa baik dalam menyelesaikan masalahnya maupun dalam kegiatan belajarnya.
c.         Lebih meningkatkan peranannya dalam membantu siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
  1. Kepada orang tua wali;
a.         Memberikan perhatian khusus dalam pergaulan saat dirumah.
b.         Memberikan bimbingan belajar kepada anak saat dirumah.
c.         Memenuhi kebutuhan anak yang menunjang proses belajarnya.
d.        Memberikan motifasi dan intensif yang diperlukan anak.

Referensi
Anas Salahudin, bimbingan dan konseling. Bandung: CV Pustaka setia 2010
Depdiknas. bimbingan dan konseling di sekolah. Direktorat tenaga kependidikan dirjen peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Jakarta 2008
Prayitno dan erman. Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta: reneka cipta.1995
Media online:




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar